Senin, 11 Juli 2011

resume

SOSIOLOGI KOMUNIKASI


BAB SATU: FILSAFAT SOSIOLOGI KOMUNIKASI

  1. Filsafat social, sosiologi modern, dan komunikasi.
Pada awal perkembangan teori sosiologi, sosiologi dibesarkan oleh minat masyarakat terhadap sains yang menginginkan sosiologi meniru kesuksesan sains atau karena  kesuksesan sains pada saat itu yang mengalihkan perhatian masyarakat terhadap sosiologi. Banyak pengamat berpendapat perkembangan teori sosiologi dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran abad pencerahan yang berkembag pada periode perkembangan intelektual dan pembahasan pemikiran filsafat yang luar biasa. Secara singkat sejarah filsafat ilmu pengetahuan mencatat perkembangan-perkembangan tersebut sebagai berikut:
1. Sebelum yunani kuno (sebelum ± 600 SM)
            Mistik adalah sebuah fenomena fisika yang sebenarnya sudah ditemukan oleh para mistikus pada ribuan tahun yang lalu, sedangakan fenomena yang sama baru dutemukan oleh para fisikawan modern saat ini. Dalam bukunya misticism and the New Phisics (2002), Michael Talbot mengatakan bahwa, dalam hal keterkaitan fenomena fisik alam raya, yag berhubungan dengan manusia dan realitas kehidupan manusia, mistik telah mengetahui ribuan tahun yag lalu ketika sains baru mengetahuinya sekarang.
            Sesungguhnya kesadaran manusia tentang realitas tergantung bagaimana syaraf-syaraf otak kita bekerja, dengan demikian mistik adalah persoalaan biologis manusia dalam menangkap dunia omnijektif adalah persoalan kesadaran manusia. Ini semua adalah problem mistik manusia, terutama ketika kemampuan omnijektif dan kesadaran itu harus dibahasakan. Pengalaman manusia satu dengan manusia lain amat berbeda dengan dunia mistiknya. Begitu pula kemampuan manusia satu dengan manusia lainnya amat sangat ditentukan oleh kesadaran dan kemampuan ia membahasakan pengalamannya itu. Jadi, dengan demikian persoalan mistik ini adalah sebuah rahasia Allah yang sebenarnya oleh mistikus sudah dapat diungkapkan sejak ribuan tahun lalu. Akan tetapi dalam sains modern saat ini mistik baru mulai menjadi perdebatan ketika fenomena mistik mulai dapat diungkapkan oleh ilmuwan sains modern.
2. Yunani kuno (± 600 SM)
            Pada periodesasi sekitar ± 600 SM periode ini ditandai oleh pergeseran pemikiran dari mitos ke logos. Penjelasan-penjelasan mistik yang berdasarkan kepercayaan irasional tentang gejala-gejala alam bergeser pada penjelasan logis yang bedasarkan pada rasio.
3. Abad pertengahan (300 SM-1300SM)
            Menurut Adian (2002:9), pemikiran filsuf pada abad ini kehilangan otonominya. Pemikiran abad pertengahan bercirikan teosentris (berpusat pada kebenaran wahyu tuhan). Para filsuf rohaniawan seperti Thomas Aquinas (1225-1274) dan St. Bonaventura (1221-1257) adalh rohaniawan-rohaniawan yang hendak merekonsiliasi akal dan wahyu. Kebenaran wahyu mereka buktikan tidak berbeda dengan kebenaran yang dihasilkan akal. Dimasa ini pertengahan anatara wahyu dan akal bahkan semakin menajam dan cenderung mengeras. Banyak sekali ilmuwan yang di eksekusi mewar-takan kebenaran ilmiah yag tidak sesuai dengan kebenaran wahyu. Ilmu pengetahuan pun menjadi surut pengetahuanya.
4. Filsafat modern (Abad 17-19)
            Kurang lebih sepuluh abad lamanya pemikiran filsuf dan ilmu pengetahuan berdasarkan rasio direpsi oleh kebenaran teologis yang berdasarkan iman. Kecenderungan ini biasa disebut fideisme, ketaatan buta pada iman. Semangat untuk membebaskan manusia dari keterbelengguan teologis muncul pada yang dikenal dengan nama Renaisans. Istilah renaisans berarti kelahiran kembali. Kelahiran kembali pemikiran filsuf yunani kuno yang otonom lewat mempelajari kembali karya-karya klasik filsuf-filsuf yunani kuno yang selama ini “disembunyikan” dan di monopoli kalangan elite gereja saja (Adian, 2002:10)
Kebangkitan kembali rasio yang mewarnai zaman modern juga tidak dapat dilepaskan dari pemikiran seorang filsuf perancis bernama Rene Descartes (1596-1650). Pemikiran sang filsuf berjasa merehabilitasi, mereotonomisasi rasio yang telah sekian lama (kurang lebih seribu tahun) dijadikan hamba sahaya keimananya.
5. Positivisme (Abad ke-20)
            Pada bagian lain Adian (2002:12) mengatakan, pandangan dunia emperisme yang objektif dalam memandang pengetahuan tersebut mengalami puncaknya pada alairan filsafat yang dikenal dengan nama positivisme. August comte (1798-1857) adalah filsuf yang memelopori kemunculan aliran filsafat ini. Comte jugalah yang menciptakan istilah “sosiologi” sebagai disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat secara ilmiah. Positivisme mempunyai pengaruh yang amat kuat terhadap berbagai disiplin ilmu bahkan sampai dewasa ini. Pengaruh ini dikarenakan klaim-klaim yang dikenakan oleh positivisme terhadap ilmu pengetahuan. Yaitu klaim kesatuan ilmu, ilmu-ilmu manusia dan ilmu alam berada dibawah payung paradigma yang sama, yakni paradigma positivistic. Klaim kesatuan bangsa, bahasa perlu dimurnikan dari konsep-konsep metafisis dengan mengajukan parameter verifikasi. Klaim kesatuan metode, metode verifikasi bersifat universal, berlaku baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu manusia.
6. Alam simbolis
            Positivisme telah mereduksi kekayaan pegalamn manusia menjadi fakta-fakta empiris. Prinsip bebas nilai positivisme telah membuat ilmuwan menjadi robot-robot yang tak berperasaan. Positivisme telah mengakibatkan keringnya semesta dari kekayaan batin yang tak terhingga, semesta telah didekralisasi. Menurut Ernest Cassirer adalah makhluk yang memiliki substratumsimbolis dalam benaknya hingga mampu memberikan jarak antara rangsangan da tanggapan. Distansiasi (refleksi) melahirkan apa yang disebut system-sistem simbolis, seperti ilmu pengetahuan, seni, religi, dan bahasa.
7. Posmodernisme
            Kata “pos” pada posmodernisme sering dipahami sebagai “pasca”, “sesudah” dalam pengertian urutan waktu, suatu kemajuan melampaui modernisme. Pemahaman tersebut salah kaprah karena posmodernisme justru sagat ‘anti’ terhadap ide-ide, seperti kemajuan, emansipasi, linieritas sejarah, dan sebagainya.
Posmedernisme sesungguhya merupakan terminologi untuk mewakili suatu penggeseran wacana diberbagai bidang, seperti seni, arsitektur, sosilogi, literature dan filsafat yang bereaksi keras terhadap wacana modernisme yang terlampaui mendewakan rasionalitas sehingga mengeringkan kehidupan dari kekayaan dunia batin manusia.
            Posmodernisme tidak bisa dikonseptualisasikan dalam satu definisi yang jelas dan terpilih karena segala sesuatu yang berbau menyatukan justru diharamkan oleh kaum posmodernis. Mereka adalah pewaris kaum sofis yunani kuno yang sangat anti kebenaran tunggal demi berkecambahnya kebenaran-kebenaran particular yang plural.

  1. Sosiologi komunikasi
Persoalan manusia pada akhirnya diatasi oleh filsafat melalui pendekata filsafat socialyang kemudian mampu menjawab persoalan-persoalan: liberalisme, sosiolisme, komunalisme, dan welfare liberalism, namun untuk menjawab persoalan-persoalan kemasyarakatan lainnya yang lebih kongkrit, filsafat social mengalami hambatan metodelogis.karena itu banyak persoalan masyarakat tidak bisa lagi diatasi oleh filsafat social. Manusia membutuhkan ilmu pegetahuan yang menjembatani filsafat dan manusia. Karena itu lahirlah sosiologi sebagai jalan keluar untuk membantu manusia memecahkan persoalan masyarakat.
Orang yang pertama menggunakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte (1798-1857). Pikiran-pikiran Comte sangat dipengaruhui oleh sains sehingga pandangan ilmiahnya memperkenalkan “positivisme” atau “filsafat positif”. Comte mengatakan ada tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui kelompok masyarakat, ilmu pengetahuan, individu, atau bahkan pemikiran masyarakat dan dunia sepanjang sejarah. Pertama, tahap teologis yang menjadi karakteristik dunia sebelum era 1300. dalam tahapan ini system gagasan utama menekankan pada keyakinan bahwa kekuatan adikodrati, tokoh agama dan keteladanan kemanusiaan menjadi dasar segala hal. Dengan demikian dunia social dan alam fisika adalah ciptaan tuhan. Kedua, tahap metafisika yang terjadi antara 1300-1800. era ini ditandai oleh keyakinan bahwa kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukan para dewa. Ketiga, pada tahun 1800 memasuki tahap positivistic yang ditandai dengan oleh keyakinan terhadap sains. Manusia mulai cenderung menghentikan penelitian terhadap kecenderungan penyebab absolute (Tuhan atau Alam) dan memusatkan perhatian pada pengamatan terhadap alam fisik dan dunia social guna mengetahui hokum-hukum yang mengaturnya.

  1. Lahirnya sosiologi komunikasi
Asal mula komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Kark, dimana Mark sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yamg beraliran jerman sedangkan Claude Henri Saint-Simon, August Comte, dan Emile Durkheim merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran perancis.
Sosiologi sejak semula telah menaruh perhatian pada masalah-masalah yang ada hubungan dengan interaksi social antara seseorang dengan orang lainnya. Apa yang disebutka Comte dengan “social dynamic”, “kesadaran kolektif” oleh durkhem, dan “interaksi social” oleh Mark serta “tindakan komunikatif” dan “teori komunikasi” oleh Habermas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi. Bahkan melihat kenyataan semacam itu, maka sebenarnya gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri baik dalam perspektif structural-fungsional maupun dalam perspektif konflik.


BAB DUA: RUANG LINGKUP DAN KONSEPTUALISASI SOSIOLOGI KOMUNIKASI

          A. Manusia sebagai makhluk sosial
            Manusia disebut sebagai makhluk yang unik, yang memiliki kemampuan social sebagai makhluk individu dan makhluk social. Disamping itu, semua manusia dengan akal pikirannya mampu mengembangkan kemampuan tertingginya sebagai makhluk ciptaan tuhan yaitu memiliki kemampuan spiritual, sehingga manusia disamping sebagai sebagai makhluk individual, makhluk social, juga sebagai makhluk spiritual.
Sehubungan dengan itu, beberapa konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep tentang sosiologi, community, communication, telematika, merupakan konsep penting yang kemudian melahirkan studi-studi integratif serta terkait satu sama lain sehingga melahirkan studi-studi interelasi yang penting untuk dibicarakan disini sekaligus juga sebagai ruang lingkup dalam studi-studi sosiologi komunikasi.
1. Sosiologi
            Kata sosiologi berasal dari sofie, yaitu bercocok tanam atau bertanam, kemudian berkembang menjadi socius dalam bahasa latin yang berarti teman, kawan. Berkembang lagi menjadi kata sosial, artinya berteman, bersama, berserikat.
Selo Soemardjan Soeleman Soemardi (Soekanto, 2003:20) mengatakan bahwa, sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur social dan proses-proses social, termasuk perubahan-perubahan social. Struktur social adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur social yang pokok, yaitu kaidah-kaidah social (noram-norma social), lembaga-lembaga social kelompok-kelompok, serta lapisan-lapisan social. Proses social pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan hukum dengan segi kehidupan ekonomi, da lain sebagainya.
2. Community
            Manusia yang hidup bersama dalam ilmu sosial tidak mutlak jumlahnya, bisa saja dua orang atau lebih. Manusia yersebut hidup bersamam dalam waktu yang relative lama, dan akhirnya melahirkan manusia-manusia baru yag saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Hubungan antara manusia itu akhirnya melahirkan keinginan, kepentingan, perasaan, kesan, penilaian dan sebagainya. Keseluruhan itu kemudian mewujudkan adanya sisitem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dalam masyarakat tersebut.
3. Teknologi telematika
            Istilah teknologi telematika (telekomunikasi, media dan informatika) bermula dari istilah teknologi informasi (Information Technology atau IT). Istilah ini mulai popular diakhir dekade 70-an. Pada masa sebelumnya, teknologi informasi masih disebut dengan istilah teknologi computer atau pengolahan data elektronik atau PDE (Elektronic Data Processing atau EDP).
 Istilah telematika lebih kearah penyebutan kelompok teknologi yang disebutkan secara bersama-bersama, namun sebenarnya yang dimaksudkan adalah teknologi informasi yang digunakan di media massa serta teknologi komunikasi yang umumnya digunakan dalam bidang komunikasi lainnya.
4. Communication
            Lingkup komunikasi menyangkut persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan substansi interaksi social orang-orang dalam masyarakat, termasuk konten interaksi (komunikasi) yang dilakukan secara langsung maupun dengan menggunakan media komunikasi.
5. Sosiologi komunikasi
            Menurut Soerjono Soekanto (Soekanto 1992:471), sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi social yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruh-mempengaruhui antara para individu, individu dengan kelompok maupun dengan antar kelompok.
            Secara komprehensif sosiologi komunikasi mempelajari tentang interaksi sosial dengan segala aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi) itu dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari interaksi tersebut, sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan social dimasyarakat yang didorong oleh efek media berkembang serta konsekuensi social macam apa yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dari perubahan yang didorong oleh media massa itu sendiri.
            Komunikasi didalam masyarakat dibagi dalam 5 jenis:
  1. komunikasi individu dengan individu (komunikasi anatar pribadi)
  2. komunikasi kelompok
  3. komunikasi organisasi
  4. komunikasi social
  5. komunikasi massa
Komponen komunikasi:
  1. komunikator (communicator)
  2. pesan (message)
  3. media (media)
  4. komunikan (communicant)
Bentuk komunikasi:
  1. komunikasi personal
    • komunikasi intrapersonal
    • komunikasi antarpersonal
  2. Komunikasi kelompok
    • Komunikasi kelompok kecil (small group communication)
-          Ceramah (lecture)
-          Diskusi panel (panel disscusion)
-          Simposius (symposius)
-          Forum
-          Seminar
-          Curah saran (brainstorming)


    • Komunikasi kelompok besar (large group communication public speaking)
  1. Komunikasi massa
    • Personal
    • radio
    • Televise
    • Dan lain-lain
  2. Komunikasi media
    • Surat
    • Telpon
    • Pamflet
    • Poster
    • Spanduk

B. Ranah, Kompleksitas, dan Objek Sosiologi Komunikasi.

            Ranah sosiologi komunikasi berada pada wilayah individu, kelompok, masyarakat, dan system dunia. Dimana ranah ini bersentuhan dengan wilayah lain, seperti teknologi telematika, komunikasi, proses dan interaksi social, serta budaya kosmopolitan. Ranah sosiologi komunikasi berbeda dengan studi-studi komunikasi dan sosiologi secara keseluruhan, dengan kata lain objek sosiologi komunikasi tidak sama dengan sosiologi secara umum. Begitu juga sosiologi tidak mengambil objek komunikasi secara utuh, akan tetapi sosiologi komunukasi menjembatani studi-studi sosiologi dan studi-studi komunikasi dimana jembatan itu dibangun berdasarkan kajian sosiologi tentang interaksi social yang dalam sosiologi juga dikenal dengan subkajian masalh-masalah komunikasi, kemudian menariknya dalam studi komunikasi yang berkaitan erat dengan sosiologi yaitu studi-studi media, dampak media maupun dampak perkembangan teknologi komunikasi.

Kompleksitas studi sosiologi komunikasi :

Oval: Hukum,
Agama, Administrasi,
dll
           



Sosiologi komunikasi juga memiliki objek kajian yang terbuka luas setiap saat, seirama dengan cepatnya perubahan-perubahan social budaya dan teknologi media yang berkembang dimasyarakat beserta semua aspek yang mengikutinya. Saat ini, kendali arah perkembangan dunia teknologi komunikasi ditentukan oleh pesatya perkembangan dunia teknologi komunikasi yag kemudian secara simultan memengaruhi ranah-raah social dan budaya masyarakat disetiap lapisan masyarakat.

Objek sosiologi komunikasi
            Objek formal dalam studi sosiologi komunikasi menekankan pada aspek aktivitas manusia sebagai makhluk social yang melakukan aktivitas sosiologis yaitu proses social dan komunikasi, aspek ini merupakan aspek dominant dalam kehidupan manusia bersama orang lain. Aspek lainya adalah telematika dan realitasya

BAB TIGA: STRUKTUR DAN PROSES SOSIAL

            A. Struktur masyarakat
1. Kelompok social
            Kehidupan kelompok adalah sebuah naluri manusia sejak ia dilahirkan. Naluri ini yang mendorong unutk selalu menyatukan hidupya dengan orang lain dalam kelompok.
Kelompok social adalah kehidupan bersama manusia dalam himpunan atau kesatuan-kesatuan mausia yang umumnya secara fisik relative kecil yang hidup secara guyub.
            Ada empat kelompok social yang dapat dibagi berdasarkan struktur masing-masing kelompok:
    1. Kelompok formal sekunder, Kelompok social yang umumnya bersifat sekunder, bersifat formal, memiliki aturan dan struktur yang tegas, serta dibentuk berdasarkan tujuan-tujuan yang jelas pula.
Kelompok social formal sekunder mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·         Adanya kesadaran anggota bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang bersangkutan.
·         Setiap anggota memilik hubungan timbal balik dengan anggota lainnya dan bersedia melakukan hubungan-hubungan fungsional diantara mereka.
·         Kelompok social ini memiliki struktur yang jelas dan tegas, termasuk juga prosedur suksesi da kaderisasi.
·         Memiliki aturan formal yang mengikat setiap anggota kelompok dalam struktur yang ada termasuk juga mengatur mekanisme struktur dan sebagainya.
    1. Kelompok formal primer, kelompok social yang umumnya bersifat formal namun keberadaanya bersifat primer. Kelompok ini tidak memiliki aturan yang jelas, walaupun tidak dijalankan secara tegas.
Kelompok formal primer memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh kelompok formal sekunder, seperti:
·         Setiap anggota sadar menjadi bagian dari anggota kelompok itu, memiliki kesadaran bersama bahwa ia bagian dari kelompok yang bersangkutan.
·         Setiap anggota memiliki hubungan timbale balik dengan anggota lainnya yang terjadi secara intensif dan bersedia melakukan hubungan-hubugan fugsional diantara mereka berdasarkan pendekatan da kepentingan diantara mereka.
    1. Kelompok informal sekunder, kelompok social yang umumnya informal namun keberadaanya bersifat sekunder, kelompok ini bersifat tidak mengikat, tidak memiliki aturan, dan struktur yang tegas serta dibentuk berdasarkan sesaat da tidak mengikat.
    2. Kelopmok informal primer, kelompok social yang terjadi akibat meleburnya sifat-sifat kelompok social formal-primer atau disebabkan karena pembentukan sifat-sifat diluar kelompok formal-primer yang tidak dapat ditampung oleh kelompok formal-primer.
2. Lembaga (pranata) social
            Lembaga (pranata) social adalah sekumpulan tata aturan yang mengatur interaksi dan proses-proses social di dalam masyarakat. Lembaga social memungkinkan setiap struktur dan fungsi serta setiap-setiap harapan anggota dalam masyarakat dapat berjalan dan memenuhi harapan sebagaimana yang disepakati bersama. Dengan kata lain lembaga social digunakan untuk menciptakan ketertiban (order).
            Wujud kongkret dari pranata social adalah aturan, norma, adapt istiadat, dan semacamnya yang mengatur kebutuhan masyarakat dan telah terinternalisasi dalam kehidupan manusia, dengan kata lain pranata social adalah system norma yang telah melembaga atau menjadi kelembagaan disuatu masyarakat. Misalnya, kebutuhan orang terhadap penyembuhan penyakit,menghasilkan kedokteran, perdukunan, penyembuhan alternatif.
3. Stratifikasi social (Social stratification)
            Stratifikasi atau strata social adalah struktur social yang berlapis-lapis didalam masyarkat. Lapisan sosial menujukkan bahwa masyarakat memiliki strata, mulai dari yang terendah dan yang paling tinggi. Lahirnya strata social ini Karena kebutuhan masyarakat terhadap system produksi yang dihasilkan oleh masyarakat disetiap strata, dimana system produksi itu mendukung secara fungsional masing-masing strata.
            Secara umum, strata social dimasyarkat melahirkan kelas-kelas social yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu atas (Upper Class), menengah (Middle Class), dan bawah (Lower Class). Kelas atas mewakili kelompok elite dimasyarakat yang jumlahnya sangat terbatas. Kelas menengah mewakili kelompok prefesional, kelompok pekerja, wiraswastawan, pedagang dan kelompok fungsional lainya. Sedangakan kelas bawah mewakili kelompok pekerja kasar, buruh harian, buruh lepas, dan semacamnya.
            Dasar pembentukan kelas social adalah: (a) ukuran kekayaan (b) ukuran kepercayaan (c) besaran kekuasaan (d) ukuran kohormatan (e) ukuran ilmu pengetahuan dan pendidikan.
4. Mobilitas social (Sosial mobility)
            Menurut Horton dan Hunt (Narwoko Dan Suryanto, 2004:188), mobilitas social dapat diartikan sebagai suatu gerak perpindahan dari suatu kelas social ke kelas social lainya. Mobilitas bisa berupa peningkatan atau penurunan dalam segi status social dan (biasanya) termasuk pula segi penghasilan yang dapat di alami oleh beberapa individu atau oleh kesekuruhan anggota kelompok.
Contoh, pak hartono yang dulunya menjadi direktur sekarang turun jabatan menjadi staf biasa, dan contoh ini termasuk sebuah cerita seseorang yang mengalami turun kelas social.
            Dengan demikian, secara umum ada tiga jenis mobilitas social, yaitu gerak social yang meningkat (social climbing), gerak social menurun (social sinking), dan gerak social horizontal.
5. Kebudayaan
            Kebudayaan (culture) adalah produk dari seluruh rangkaian prosese social yang dijalankan oleh manusia dalam masyarakat dengan segala aktivitasnya. Dengan demikian, maka kebudayaan adalah hasil nyata dari sebuah proses social yang dijalankan oleh manusia bersama masyarakat.
            Kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta buddhaya yang merupakan kata jamak dari buddhi yag berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal” (Koentjaingrat, 1979:195)
            Kebudayaan universal memiliki unsur-unsur penting lain yang lebih luas, yakni sebagai berikut:
    1. Sistem teknologi
    2. System mata pencaharian hidup (system_ekonomi produksi)
    3. Sisitem social
    4. System bahasa
    5. System kesenian
    6. System ilmu pengetahuan
    7. System religi
    8. System pertahanan dan kekuasaan
    9. System pendidikan
    10. System kesehatan
    11. Sistem pertahanan (kekuatan)

B. Proses dan interaksi social
            Bentuk umum proses social adalah interaksi social, sedangkan bentuk khususnya adalah aktivitas-aktivitas social. Interaksi social merupakan hubungan yang dinamis menyangkunt hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antar orang perorangan dengan kelompok manusia. Syarat terjadinya interaksi social adalah adnya kontak social dan adanya komunikasi.
1. Kontak sosial
            Menurut Soeryono Soekanto (2002:65), kontak social berasal dari bahasa latin con atau cun (bersama-sama) dan tango (menyentuh), jadi, artinya secara harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik kontak social baru terjadi apabila adanya hunungan fisikal, sebagai gejala social hal itu bukan semata-mata hubungan badaniah, karena hubungan social terjadi tidak saja secara menyentuh seseorang, namun orang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa harus menyentuhnya. Misalnya kontak social sudah terjadi ketika seseorang sudah berbicara dengan orang lain, bahkan kontak social juga dilakukan dengan menggunakan teknologi, seperti melalui telpon, telegram, radio, surat, televise, dll.
            Kontak social dapat berlangsung dalam lima bentuk, yaitu:
a.       Dalam bentuk prosese sosialisasi yang berlangsung antara pribadi orang per orang. Proses sosialisasi ini memungkinkan seseorang mempelajari norma-norma yang terjadi di masyarakatnya.
b.      Antara orang per orang dengan suatu kelompok masyarakat atau sebaliknya.
c.       Atara kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainya dalam sebuah komunitas.
d.      Antara oarng per orang dengan masyarakat global di dunia internasional.
e.       Antara orang per orang, kelompok, masyarakat dan dunia global, dimana kontak social terjadi secara simultan di atara mereka.
2. Komunikasi
            Sosiologi menjelaskan komunikasi sebagai sebuah proses memaknai yang dilakukan oleh seseorang. Contoh, seorang pria memberikan bungah kepada seorang gadis. Pemberian bungah tersebut bisa di tafsirkan sebagai rasa cinta, persahabatan, perdamaian, dll.
            Dalam komunikasi ada tiga unsur penting yang selalu hadir dalam setiap komunikasi, yaitu sumber informasi (source), saluran (media), dan penerima informasi (audience).

            C. Proses-proses interaksi social
1. Proses asosiatif
            Proses asosiatif adalah proses yang terjadi saling pengertian dan kerja sama timbal balik antara orang per orang atau kelompok satu dengan yang lainnya, dimana proses ini menghasilkan pencapaian-pencapaian tujuan bersama.
a.       Kerja sama (cooperation), adalah usaha bersama antara individu atau kelompok unutk mencapai satu atau tujuan bersama. Ada beberapa bentuk cooperation, yaitu:
·         Gotong royong dan kerja bakti, adalah sebuah proses cooperation yang terjadi di pedesaan, dimana proses ini menghasilkan aktivitas tolong menolong.
·         Bargaining, adalah proses cooperation dalam bentuk perjanjian pertukaran kepentingan, kekuasaan, barang maupun jasa antara dua organisasi atau lebih yang terjadi di bidang politik, budaya, ekonomi, hukum, maupun militer.
·         Co-optation, adalah proses cooperation yang terjadi di antara individu dan kelompok yang terlibat dalam sebuah oraganisasi atau Negara dimana terjadi proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menciptakan stabilitas. Jadi, apabila pemimipin berusaha memasukkan sebuah program dalam kegiatan organisasi dimana pada awalnya program itu memiliki resistensi dari bawahan, namun kemudian bawahan dikonstruksi untuk mendukung program itu dan ternyata bawahan bersedia demi keberlangsungan organisasi, maka proses kerja sama ini disebut dengan co-optation.
·         Coalition, adalah dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama kemudian melakukan kerja sama satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan tersebut.
·         Joint-venture, adalah kerja sama dua atau lebih organisasi perusahaan di bidang bisnis untuk mengerjakan proyek-proyek tertentu.

b.      Accomodation, adalah proses social dengan dua makna, pertama adalah proses social yang menunujkkan pada suatu kedaan yang seimbang (equilibrium) dalam interaksi social antara individu dan antarkelompok di dalam masyarakat.
Bentuk-bentuk Accomadation adalah sebagai berikut:
·         Coersion, yaitu bentuk accomodation yang terjadi karena adanya paksaa maupun kekerasan secara fisik atau atau psikologis.
·         Compromise, yaitu bentuk akomodasi yang dicapai karena masing-masing pihak yang terlibat dalam proses ini saling mengurangi tuntutanya agar tercapai penyelesaian oleh pihak ketiga atau badan yang kedudukannya lebih tinggi dari pihak-pihak yang bertentangan.
·         Mediation, yaitu accomadition yang dilakukan melalui penyelesaian oleh pihak ketiga yang netral.
·         Conciliation, yaitu bentuk accomodation yag terjadi melalui usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih.
·         Toleration, yaitu bentuk accomodition secara tidak formal dan dikarenakan adanya pihak-pihak yang mencoba untuk menghindari diri dari pertikaian.
·         Stalemate, yaitu pencapaian accomodation dimana pihak-pihak yang bertikai dan mempunyai kekuatan yang sama berhenti pada satu titik tertetu dan masing-masing di antara mereka menahan diri.
·         Adjudication, yaitu dimana berbagain usaha accomodition yang dilakukan mengalami jalan buntu sehingga penyelesaianya menggunakan jalan pengadilan.
Accomodation berlanjut dengan proses berikutnya yaitu asimilasi, yaitu suatu proses pencampuran dua atau lebih budaya yang berbeda sebagai akibat dari proses social, kemudian menghasilkan budaya tersendiri yang berbeda dengan budaya asalnya.

2. Proses disosiatif
            Proses disosiatif merupakan proses perlawanan (oposisi) yang dilakukan oleh individu-individu dan kelompok dalam proses social diantara mereka pada suatu masyarakat. Bentuk-bentuk proses disosiatif adalah persaingan, kompetisi dan konflik.

BAB EMPAT: PROSES KOMUNIKASI DALAM MASYARAKAT

          A. Komunikasi langsung
            Pada komunikasi langsung (tatap muka) baik antara individu dengan individu, atau individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok, kelompok dengan masyarakat, maka pengaruh hubungan individu (interpersonal) termasuk didalam pemahaman komunikasi ini.
            Persyaratan yang harus ada dalam komunikasi tatap muka adalah antara komunikator dengan komunikannya harus langsung bertemu dan prosesnya dipengaruhui oleh emosi, perasaan diantara kedua pihak.

            B. Komunikasi massa
            Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.
Unsur-unsur penting dalam komunikasi massa, yaitu:
  • Komunikator
  • Media massa
  • Informasi (pesan) massa
  • Gatekeeper
  • Khalayak (public)
  • Umpan balik

1. Konsep massa
            Massa memiliki unsur-unsur penting:
  • Terdiri dari masyarakat dalam jumlah yang besar.
  • Jumlah massa yang besar menyebabkan massa tidak bisa dibedakan satu dengan yang lainnya.
  • Sebagaian besar anggota massa memiliki negative image terhadapa pemberitaan media massa. Massa senantiasa mencurigai pemberitaan media massa sebagai sesuatu yang benar, bahkan untuk hal-hal tertentu cenderung skeptis dan berfikir negative.
  • Karena jumlah yang besar, maka massa juga sukar diorganisir, jumlah massa yang besar itu maka massa cenderung bergerak sendiri-sendiri.
  • Kemudian massa merupakan refleksi dari kehidupan social secara luas.
2. Proses komunikasi massa.
            Proses komunikasi massa terlihat berproses dalam bentuk:
  • Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Sekali siaran, pemberitaan yang disebarkan dalam jumlah yang luas dan diterima oleh massa pula.
  • Proses komuniksi juga dilakukan melalui satu arah, yaitu dari komunikator ke komunikan.
  • Proses komunikasi berlangsung secara asimetris diantara komunikator dan komunikan, menyebabkan komunikasi diantara mereka berlangsung datar dan bersifat sementara.
  • Proses komunikasi juga berlangsung impersonal (non pribadi) dan tanpa nama.
  • Proses komuikasi juga berlangsung berdsarakan pada hubungan-hubugan kebutuhan (market) dimasyarakat. Seperti televisi dan radio melakukan penyiaran karena adanya kebutuhan masyarakat tentang pemberitaan-pemberitaan
3. Audiensi massa
            Sifat dari audiensi massa umpamanya:
  • Terdiri daru jumlah yang besar, misalnya pendengar radio, televisi, dll.
  • Suatu pemberitaan media massa dapat ditangkap oleh masyarakat dari bebagai tempat sehingga sifat audien massa juga ada tersebar dimana-mana.
  • Pada mulanya audiensi massa tidak interaktif, artinya antara media massa dan pendengar atau pemirsanya tidak saling berhubungan, namun konsep ini sudah mulai di tinggal karena audien massa dan media massa dapt berinteraksi satu dengan yang lainnya melalui komunikasi telepon.
  • Terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang sangat heterogen.
  • Tidak terorganisir dan bergerak sendiri.
4. Budaya massa
            Budaya massa dalam komunikasi massa memiliki karakter:
  • Nontradisional, yaitu umumnya komunikasi massa berkaitan erat dengan budaya popular. Acar-acara infotaiment seperti AFI, KDI, dll.
  • Budaya massa juga bersifat merakyat.
  • Budaya massa juga memproduksi produk-produk massa seperti umpamanya infotaiment adalah produk pemberitaan yang diperuntukkan kepada massa secara luas.
  • Budaya massa sangat berhubungan dengan budaya populer sebagai sumber budaya massa.
5. Fungsi komunikasi massa]
  • Fungsi pengawasan, pengawasan dan control untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti pemberitaan bahaya narkoba, dll.
  • Fungus social learning, fungsi utama melakukan guiding dan pendidikan social kepada seluruh masyarakat.
  • Fungsi penyampaian informasi, menjadi proses penyampaian informasi tehadap masyarakat luas.
  • Fungsi transformasi budaya, menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa.
  • Hiburan, fungsi lain dari komunikasi adalah hiburan.
6. Komunikasi massa sebagai system sosial
            Kata system berasal dari bahasa yunani, yaitu systema. Artinya sehimpunan dari bagian atau komponen yang saling berhubungan satu sama lain secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan.
            Komunikasi massa sebagai sisitem sosila memiliki komponen-komponen penying, yaitu:
  • Nara sumber sebagai sumber-sumber informasi bagi media massa
  • Public yang mengomsumsi media massa
  • Aturan hukum dan perundang-undangan, norma-norma dan nilai-nilai serta kode etik.
  • Institusi samping yang tumbuh untuk memberi konstribusi terhadap kegiatan komunikasi massa, seperti percetekan, dll.
  • Pihak-pihak yang mengendalikan berlangsungnya komunikasi massa.

C. Peran media massa
            Media massa adalah institusi yang berperan sebagai agent of change, yaitu sebagai institusi pelopor perubahan. Ini adalah paradigma utama utama media massa. Dalam menjalankan paradigmanya media massa berperan:
  • Sebagai institusi pencerahan masyarakat yaitu perannya sebagai media edukasi.
  • Media massa juga menjadi media informasi.
  • Media massa sebagai media hiburan


BAB LIMA: PERUBAHAN SOSIAL DAN BUDAYA MASSA

            A. Perubahan sosial
            Perubahan social adalah proses social yang di alami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan system-sistem social, dimana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan system social lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya dan system social yang baru.
            Perubahan social terjadi ketika ada ketersediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan unsur-unsur budaya dan system social lama dan mulai beralih menggunakan unsur-unsur budaya dan system social yang baru.
Hal-hal penting dalam perubahan social menyangkut aspek-aspek sebagai berikut, yaitu: perubahan pola pikir masyarakat, perubahan prilaku nasyarakat, perubahan budaya materi.
            Beberapa tahapan transisi sosiologis:
a.       Fase primitif, yaitu dimana manusia hidup secara terisolir dan berpindah-pindah disesuaikan dengan lingkungan alam dan sumber makanan yang tersedia.
b.      Fase agrokultural, yaitu ketika alam mulai tidak lagi mampu memberi dukungan terhadap manusia.
c.       Fase tradisional, yaitu masyarakat menjalani hidup secara menetap disuatu tempat yang dianggap strategis untuk penyediaan berbagai kebutuhan hidup masyarakat.
d.      Fase transisi, yaitu kehidupan desa sudah sangat maju, isolasi kehidupan hampir tidak ditemukan lagi dalam skala luas, transportasi sudah lancer, dll.
e.       Fase modern, yaitu ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan social yang lebih jelas meninggalkan fase transisi.
f.       Fase postmodern, yaitu sebuah fase perkembangan masyarakat yang pertama-tama dikenal di Amerika serikat pada akhir tahun 1980-an. Masyarakat postmodern adalah masyarakat modern dengan kelebihan-kelebihan tertentu dimana kelebihan-kelebihan itu menciptakan pola sikap dan prilaku serta pandangan-pandangan mereka terhadap diri dan lingkungan social yang berbeda dengan masyarakat modern atau masyarakat sebelum itu.

B. Budaya massa dan budaya populer
            Sehubugan dengan makna komunikasi terutama komunikasi massa, makna kata massa mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk, yang komponen-komponenya sulit dibedakan satu dengan yang lainnya.
Secara umum pengerrtian massa ditandai dengan:
a.       Kurang memiliki kesadaran diri
b.      Kurang memiliki identitas diri
c.       Tidak mampu bergerak secara serentak dan terorganisir untuk mencapai suatu tujuan tertentu
d.      Massa ditandai oleh komposisi yang selalu berubah dan berada dalam batas wilayah yang selalu berubah pula.
Media massa adalah institusi yang menghubungkan seluruh unsur masyarakat satu dengan yang lainnya dengan melalui produk media massa yang dihasilkan.
Di sisi lain, media juga sering menyajikan berita, film, dan informasi lain dari berbagai Negara sebagai upaya media memberikan pilihan yag memuaskan bagi khalayak nya. Produk media baik yang berupa berita berita, program keluarga, kuis, film dan sebagainya, disebut sebagai upaya massa yaitu karya budaya.
Budaya massa dibentuk disebabkan:
a.       Tuntutan industri terhadap pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tempo singkat.
b.      Karena massa budaya cenderung “latah” menyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang naik daun atau laris.
Budaya populer juga menjadi bagian dari budaya elite dalam masyarakat tertentu. Sejauh itu pula budaya populer dipertanyakan konsepnya yang konkret, serta pengaruhnya yang lebih dirasakan seperti umpamanya apa perbedaan antara modernisasi dan posmedernisasi. Budaya populer itu lebih banyak mempetontonkan sisi hiburan, yang kemudian mengesankan lebih konsumtif.


BAB ENAM: PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MEDIA DAN KOMUNIKASI MASSA

            A. Perkembangan teknologi media
1. Riwayat komunikasi dan sejarah kemanusiaan
            Riwayat perkembangan komunikasi antarmanusia adalah sama dengan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Menurut Nordenstreng dan Varis (1973) dalam (Nasution, 1989:15), ada empat titik penentu yang utama dalam sejarah komunikasi manusia, yaitu:
a.       Ditemukannya bahasa sebagai alat interaksi tercanggih manusia
b.      Berkembangnya seni tulisan dan berkembangnya kemampuan bicara manusia menggunakan bahasa
c.       Berkembangnya kemampuan reproduksi kata-kata tertulis denagn menggunakan alat pencetak.
d.      Lahirnya komunikasi elektronik, mulai dari telegraf, telpo, radio, hingga satelit.
2. Perkembangan komunikasi dan teknologi komunikasi

Struktur Masyarakat
            Perilaku manusia dan teknologi memiliki interaksi didalam lingkungan sosioteknologi.
            Kelima komponen itu berinteraksi dalam proses social, satu dan yang lainya saling berinteraksi dan mempengaruhui dimana setiap komponen memiliki visi masing-masing yang saling bersinergi serta menghasilkan output proses social sebagaimana diharapkan oloeh seluruh stakeholder sosioteknologi.
            Lahirnya era komunikatif interaktif ditandai dengan terjadinya diversifikasi teknologi informasi dengan bergabungnya telpo, radio, computer, dan televise menjadi satu dan menandai teknologi yang disebut dengan internet.
            a. Media komunikasi antarpribadi
perkembangan awal pada media komuikasi antarpribadi dengan enam media:
·         Suara
·         Grafik
·         Teks
·         Musik
·         Animasi
·         Video
b.Media penyimpanan
Jenis-jenis media penyimpanan adalah:
·         Buku dan kertas
·         Kamera
·         Alat perekam kaset
·         Kamera flim proyektor
·         Pita perekam video
·         Flash disk
c.       Media transmisi
·         Komunikasi, seperti telegraf, telepon, dll.
·         Penyiaran, seperti teriakan, papan pengumuman,radio, surat kabar, dll.
·         Jaringan, seperti internet,dll.
3. Empat era perkembangan komputerisasi
a.       Era komputerisasi
b.      Era teknologi informasi
c.       Era system informasi
d.      Era globalisasi
4. Media massa depan dan platform teknologi komunikasi
            Teknologi komunikasi membutuhkan platform pengembangan yang jelas dimasa depan. Perkembangan teknologi telematika berada pada situasi anomi, dimana tidak ada platform yang jelas arah pengembanganya. Hal ini disebabkan karena setiap Negara berlomba-lomba mengembangkan teknologi telematika sesuai dengan pasar nasional maupun internasional.

            B. Adopsi inovasi dan sikap masyarakat terhadap media.
            Inovasi berkaitan dengan gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang dan masyarakat nya. Konsep baru ini terbentang antara konsep pengenalan, persuasi dan keputusan menggunakannya (adopsi).
            Difusi inovasi juga berhubungan dengan rentang waktu yang berlalu selama difusi inovasi berlangsung. Rentang waktu itu berlangsung dari pengguna pertama sampai dengan pengguna terakhir.
            Keterbukaan masyarakat terhadap sebuah inovasi memungkinkan ia mengadopsi inovasi teknologi telematika. Informasi sebelumnya tentang sebuah inovasi menjadi alasan terhadap sikap ia untuk menentukan sikap menolak atau mengadopsi inovasi itu, namun informasi cenderung mendorong keterbukaan, dan keterbukaan mendorong sikap menerima inovasi, serta sikap menerima inovasi mendorong perilaku untuk memanfaatkan atau menggunakan inovasi itu.

BAB TUJUH: MASYARAKAT CYBER

          A. Cybercommunity
1. Masyarakat global dan pembentukan cybercommunity
            Community-masyarakat adalah kelompok-kelompok yang menempati sebuah wilayah (teritorial) tertentu, yang hidup secara relative lama, saling berkomunikasi, memiliki symbol-simbol dan aturan tertentu serta system hokum yang mengotrol tindakan anggota masyarakat, memiliki system stratifikasi, sadar sebagai bagian dari anggota masyarkat tersebut serta relative dapat menghidupi dirinya sendiri.
            Perkembangan teknologi informasi juga tidak saja mampu menciptakan masyarakat dunia global, namun secara materi mampu mengembangkan ruang gerak kehidupan baru bagi masyarakat. Sehigga tanpa disadari komunitas manusia telah hidup dalam dua kehidupan, yaitu kehidupan masyarakat nyata dan kehidupan masyarakat maya (cybercommunity)
2. Masyarakat maya; sisi lain kehidupan masyarakat manusia
            Pada awalnya masyarakat maya adalah sebuah fantasi manusia tentang dunia lain yang lebih maju dengan dunia saat ini. Fantasi tersebut adalah sebuah hiper-realitas manusia tentang nilai, citra dan makna kehidupan manusia sebagai lambang dari pembebasan manusia terhadap kekuasaan materi dan alam semesta.
            a. Proses social dan interaksi sosial
            Masyarakat maya membangun dirinya dengan sepenuh nya mengandalkan interaksi social dan proses social dalam kehidupan kelompok (jaringan) intra dan antasesama anggota masyarakat maya. Sifat proses social dan interaksi social ini ditentukan oleh kepentingan mereka dalam dunia maya.
            b. Kelompok social maya
            Pada dasarnya ada 2 model keanggotaan kelompok social maya yaitu kelompok intra dan kelompok inter.
            c. Pranata dan control social masyarakat maya
            Masyarakat maya memiliki sisitem pranata dan control social yang dibangun bersama atau dibangun sebagai system proteksi diri, dibangun agar semua kebutuhan dalam masyarakat maya dapat terlayani dengan baik tanpa saling merugikan.
            d. Stratifikasi social, kekuasaan, dan kepemimpinan masyarakat maya.
            Masyarakat maya mengenal stratifikasi social berdasarkan pada besaran jaringan yang dimiliki. System kepemimpinan dalam masyarakat maya dibangun berdasarkan kekuasaan dan kepemilikan terhadap jaringan tertentu.

            B. Aplikasi cyber dalam kehidupan masyarakat.
1. E-government dan E-commerce; dan varian “E” lainya.
            E-government adalah sebuah konsep yang lebih luas dari E-office. Gagasan E-goverment sebenarya telah dimulai sejak tersedianya fasilitas e-office dalam dunia maya,dalam konsep e-office seorang pimpinan sebuah perusahaan dapat melakukan tugas sehari-hari nya tanpa harus bertatap muka dengan bawahanya karena semua tugas dapat dilakukan melalui internet yang tersedia.
            E-commerce dalam konsep yang lebih luas telah berkembang dalam banyak bidang komersial, perbankan dan lain-lain.
            Konsep-konsep “E” yang sedang berkembang di Indonesia mencakup konsep-konsep goverment to government, government to bussines, goverment to community, bussines to bussines, dll.
2. Cyberlaw sebagai konsekuensi cybercrime
            Berbagai cybercrime dalam cybercommunity merupakan imitasi terhadap kejahatan yang selama ini kita temukan di masyarkat, hanya saja kejahatan itu dilakukan menggunakan prosedur teknologi telematika yang sukar dilihat dengan mata sesaat.


BAB DELAPAN: REALITAS MEDIA DAN KONSTRUKSI SOSIAL MEDIA MASSA

            A. Diskursus realitas sosial
            Realitas social tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran individu, baik didalam maupun diluar relitas tersebut. Realitas social itu memilki makna manakala secara subjektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara objektif.
            B. Konstruksi social sebagai ilmu dan filsafat
            Dalam aliran filsafat gagasan konstruktivisme telah muncul sejak Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia dan sejak Plato menemukan akal budi dan ide.
Sejauh ini da 3 macam konstuktivisme: 1. konstruktivisme radikal 2. konstruktivisme realisme hipotesis 3. kontruktivisme biasa.
            C. Konstruksi social sebagai ilmu dan filsafat
1. Tahap konstruksi social media massa
            Konstruksi social atas realitas brlangsung lamban, membutuhkan waktu lama, bersifat spasial, dan berlangsung secara hierarkis vertical, dimana konstruksi social berlangsung dari pimpinan kepada bawahanya. Dari konten konstruksi social media massa, proses kelahiran konstruksi social media massa melalui tahap-tahap sebagai berikut: a) tahap menyiapkan materi konstruksi b) tahap sebaran konstruksi c) tahap pembentukan konstruksi d) tahap konfirmasi.
2. Realitas media; Realitas yang dikonstruksi oleh media massa.
            Realitas media adalah realitas yang dikonstruksi oleh media dalam dua model, yaitu:
            a. Model peta analog.
            Yaitu model dimana realitas social dikonstruksi oleh media bedarsarkan sebuah model analogi sebagaimana suatu realitas itu terjadi secara rasional. Jadi, realitas peta analog adalah suatu konstruksi raelitas yang dibagun berdasarkan konstruksi social media massa, seperti sebuah analogi kejadian yang seharusnya terjadi, bersiafat rasional, dan dramatis.
c.       Model refleksi realitas.
Yaitu model yang merefleksikan suatu kehidupan yang terjadi dengan merefleksikan suatu kehidupan yang pernah terjadi didalam masyarakat.
D. Realitas social bentukan media massa; iklan televisi
            Citra dalam iklan televisi telah mejadi bagian terpenting dari sebuah iklan televisi itu. Citra ini pula adalah bagian penting yang dikonstruksi oleh iklan televisi. Namun sejauh mana konstruksi itu berhasil, amat bergantug pada banyak factor, terutama adalah factor konstruksi social itu sendiri yaitu bagaimana upaya seorang copywriter mengkonstruksi kesadaran individu serta membentuk pengetahuan tentang realitas baru dan membawanya kedalam dunia hiper-realitas, sedangkan pemirsa tetap merasakan bahwa realitas itu dialami dalam dunia rasionalnya.
            E. Bahasa sebagai realitas social iklan
            Di dalam iklan bahasa digunakan dengan dua tujuan, pertama, sebagai media komunikasi dan kedua, bahasa digunakan untuk menciptakan sebuah realitas. Sebagai media komunikasi, maka iklan bersifat informatif sedangkan sebagai wacana penciptaan realitas, maka iklan adalah sebuah seni dimana orang menggunakan bahasa untuk menciptakan dunia yang di inginkannya, termasuk menciptakan wacana itu sendiri.
           
BAB SEMBILAN: PARADIGMA KEILMUAN DAN TEORI KOMUNIKASI

            A. Basis social dan paradigma teori komunikasi
            Pada masa kepemimpinan soeharto, kekuasaan politik lebih kuat dari keinginan masyarakat itu sendiri, sehingga banyak jatuh korban dan teori-teori komunikasi menjadi terpasung. Namun setelah Habibie berkuasa, peran media massa dibuka lebar-lebar, jumlah media televisi, radio, dan media cetak berkembang sangat banyak. Basis social semacam ini melahirkan berbagai kajian dan perspektif komunikasi sehingga mendesak teori-teori komunikasi konvensional.
            Perkembagan terakhir dunia komunikasi di Indonesia  ini di pengaruhi oleh tiga paradigma besar. Pertama, paradigma teori konvensional yaitu paradigma teori yang dianut oleh para ilmuwan komunikasi secara keilmuannya mengembangkan teorinya secara linier. Kedua, paradigma kritis dan perspektif komunikasi yaitu paradigma komunikasi yang di anut oleh para sarjana yang awalnya (terutama S1) belum mempelajari teori komunikasi, kemudian mempelajari komunikasi secara kritis dan menurut perspektif komunikasi yag dilihatnya. Ketiga, paradigma teknologi media, paradigma ini lahir dari para peminat teknologi telematika.
            B. Jenis pengetahuan dan paradigma lain dalam komunikasi
            Keilmuan yang digunakan dalam bidang komunikasi memerlukan kombinasi penggunaan metode pendekatan ‘scientific’ (ilmiah impirispositivistik) dan metode pendekatan ‘humanistik’.
1. Pandangan humanistik
            Para humanis sering merasakan ingin tau terhadap pernyataan bahwa ada suatu dunia kekal untuk ditemukan. Pengetahuan humanistik teristimewa cocok terhadap problem seni, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai.
2. Pandangan social science
            Dari berbagai pandangan para ahli (Berger&Chaffe, 1987; Littlejohn, 2002) secara umum, ilmu komunikasi mempunyai tiga karakteristik, yaitu: Pertama, ilmu komunikasi merupakan ilmu social yang bersifat multidisipliner dan bidang kajiannya sangat luas. Kedua, ilmu komunikasi tidak hanya merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat murni-teoritis-akademis, tetapi juga merupakan ilmu pengetahuan terapan yang diperlukan berbagai kalangan prakitisi. Ketiga, teknologi khususnya teknologi komunikasi yang diperlukan dalam proses produksi system tanda dan lambang merupakan salah satu objek kajian utama.
            C.  Pendekatan keilmuan dalam komunikasi
            Ada dua pendekatan dalam keilmuan komunikasi, yaitu pendekatan non-ilmiah atau Uscientific dan pendekatan ilmiah atau scientific.
1. Pendekatan Uscientific
            Pada pendekatan uscientific umumnya orang menjawab dorongan ingin tahu dan mencari kebenaran melalui:
  • Secara kebetulan
  • Secara trial and error
  • Melalui otorisasi seseorang
  • Wahyu
2. Pendekatan Scientific
            Pendekatan ini juga disebut sebagai pendekatan kritik-rasional dan/atau Scientific Research. Ada dua proses yang digunakan untuk menemukan kebenaran. Proses yang pertama dinamakan “berpikir kritis-rasional” dan cara yang kedua “penelitian ilmiah”..
2. Teori hubungan antarpribadi
            a) memahami hubungan antarpribadi
            b) teori-teori pengembangan hubungan
·         Self disclosure, proses pengungkapan diri pribadi seseorang kepada orang lain atau sebaliknya.
·         Social penetration, proses dimana orang saling mengenal satu dengan yang lainny.
·         Procces view, menganggap bahwa kualitas dan sifat hubungan dapat diperkirakan hanya dengan menggunakan atribut masing-masing sebagai individu dan kombinasi antara atribut-atribut tadi.
·         Social exchange, teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan, dimana hubungan itu mempengaruhi kontribusi orang lain.
H. Teori dan model komuikasi kelompok
1. Pengertian komunikasi kelompok  
Kelompok adalah sekumpulan orang-orang yang terdiri dari dua atau tiga orang bahkan lebih.
2. Karakteristik komunikasi kelompok
            Karakteristik komunikasi dalam kelompok ditentukan melalui dua hal, yaitu norma dan peran. Norma adalah kesepakatan dan perjanjian tentang bagaimana orang –orang dalam suatu kelompok berhubungan dan berprilaku satu dengan yang lainnya. Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melakukan hak dengan kewajiban dengan baik maka dia telah menjalankan suatu peran.
3. Fungsi komunikasi kelompok
  • Hubungan social
  • Pendidikan
  • Fungsi persuasi
  • Fungsi problem solving
  • Fungsi terapi
4. Tipe kelompok
            Ronald B. Adler dan George Rodman (Sendjaja, 2002: 314), membagi kelompok dalam tiga tipe, yaitu kelompok belajar ( learning group), kelompok pertumbuhan (Growth group), kelompok pemecahan masalah (problem solving group).
            I. Teori dan model komunikasi organisasi
            Komunikasi organisasi adalah komunikasi antar manusia yang terjadi dalam konteks organisasi dimana terjadi jaringan pesan satu sama lain yang saling bergantung satu sama lain.
            Fungsi komunikasi dalam organisasi ada empat, yaitu:
  1. fungsi normatif, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak dan tepat waktu.
  2. fungsi regulatif, fungsi ini berkaitan dengan peraturan yang berlaku didalam suatu organisasi.
  3. fungsi persuasif, dalam mengatur suatu organisasi tidak selalu membawa hasil yang baik, maka banyak pimpinan yang lebih suka memersuasi bawahanya dari pada memerintah.
  4. fungsi integrative, setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dengan baik.
J. Teori efek komunikasi massa
1.      Stimulus respon, merupakan dasar dari teori jarum hipodermik. Jarum hipodermik memandang bahwa sebuah pemberitaan media massa di ibaratkan sebagai obat yang disuntikkan kedalam pembuluh darah audience, yang kemudian audience akan bereaksi seperti apa yang diharapkan. Stimulus respon mengasumsikan bahwa pesan informasi dipersiapkan oleh media dan distribusikan secara sistematis dan dalam skala luas, sehingga secara serempak dapat diterima orang banyak.
2.      Komunikasi dua tahap, memiliki asumsi sebagai berikut: a) individu tidak terisolasi dari kehidupan social tetapi merupakan anggota dari kelompok social dalam berinteraksi dengan orang lain. b) respon dan reaksi terhadap pesan dari media tidak terjadi secara langsung dan segera tetapi melalui perantara.
3.      Difusi inovasi, ada 5 tahap dalam difusis inovasi yaitu: 1) pengetahuan 2) persuasi 3) keputusan 4) pelaksanann 5) konfirmasi.
4.      Teori agenda setting,  jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggap nya penting. Jadi, apa yang dianggap penting oleh media massa juga dianggap penting oleh masyarakat
5.      Teori dependensi efek komunikasi massa, teori pada dasarnya merupakan suatu pendekatan struktur social yang berangkat dari gagasan mengenai sifat suatu masyarkat modern, dimana media massa dianggap sebagai system informasi yang memiliki peran penting dalam proses pemeliharaan, perubahan.
6.      Spiral of silent, teori ini menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut terletak dalam suatu proses saling mempengaruhi.
K. Empat teori pers
            Dalam Four Theories of the Press (Siebert, Peterson, dan Schramm, 1956, Saverin dan Tankard, Jr. 2005:373), membagi pers di dunia dalam 4 kategori: otoriter, liberal, tanggung jawab social dan totaliter-soviet.


BAB SEPULUH: PENELITIAN KOMUNIKASI

            A. Proses dan fokus penelitian komunikasi
1. Proses penelitian
            Penelitian adalah proses ilmiah yang selalu ada dalam kehidupan intelektual manusia berdasarkan sifat ingin tau yang ada dalam hidup ilmuwan.
2.  Fokus penelitian
            Fokus penelitian komunikasi berhubungan dengan kajian spesifik maupun kajian makro komunikasi yaitu yang berhubungan dengan kajian sosiologis, antropolgis, politik, ekonomi,dll. Yang dimaksud dengan focus penelitian komunikasi tersebut adalah: kajian mikro komunikasi berkisar pada kajian-kajian yang berhubungan antara komponen komunikator, pesan, media komunikasi, komunikan dan efek.
            B. Pendekatan penelitian
            Pendekatan penelitian yang paling populer dan paling sering digunakan adalah pendekatan kualitatif dan penedekatan kuantitatif.

Pendekatan kualitatif:
PENDAHULUAN
  1. Judul penelitian
  2. latar belakang masalah
  3. masalah penelitian
  4. tujuan penelitian
  5. tinjauan pustaka/ teori dan kesimpulan teoritik yang digunakan.
METODE PENELITIAN:
  1. Objek dan informan penelitian
  2. cara memperoleh sumbar data (informan) dan menentukan unit analis data
  3. metode pengumpulan data dan keabsahan data
  4. metode analisis data
  5. rancangan pembahasan (diskusi) hasil penelitian
  6. rancangan laporan penelitian

Pendekatan kuantitatif
PENDAHULUAN:
  1. Judul penelitian
  2. latar belakang masalah
  3. masalah penelitian
  4. tujuan penelitian
  5. tinjauan pustaka/ teori dan kesimpulan teoritik yang digunakan
  6. hipotesis (kalau diperlukan)
METODE PENELITIAN:
  1. Populasi (sasaran) penelitian
  2. sampel dan teknik sampling
  3. metode pemgumpulan data
  4. metode dan rancangan analisis data stasistik
PEMBAHASAN DAN LAPORAN PENELITIAN:
  1. Rancangan analis data dan pengujian hipotesis penelitian
  2. rancangan penbahasan (diskusi) hasil penelitian
  3. rancangan laporan penelitian

D. Metode penelitian
            Pendekatan kualitatif lebih cenderung menggunakan analis-analis isi kualitatif dan rumpunya. Sedangkan kuantitatif lebih banyak menggunakan metode pengumpulan data  seperti angket, wawncara, dll.


BAB SEBELAS: EFEK MEDIA MASSA

            A. Efek media yang terencana
            Efek media massa yang dapat direncanakan bisa terjadi dalam waktu yang cepat tetapi juga bisa terjadi dalam waktu ynag lama. Contoh dari dua tipologi efek media massa ini  (tipologi terencana dalam waktu pendek dan dalam waktu lama) adalah sederet pemberitaan media tentang penggunaan formalin dalam makanan. Beirta ini bisa jadi propaganda, bisa jadi kampanye media, bahkan bisa pula menjadi agenda setting, namun dilakukan dalam waktu pendek, efeknya terhadap masyarakat adalah bahwa masyarakat menjadi sangat terpukul karena selama ini tak menyadarai bahwa makanan itu mengandung formalin, masyarakat takut mangkomsumsi, akibatnya produsen bangkrut.
            B. Efek media yang tidak terencana
            Efek media massa yang terjadi tak terencana dapat berlangsung dalam dua tipologi yaitu terjadi dalam waktu cepat dan terjadi dalam waktu lama. Yang terjadi dalam waktu cepat merupakan tindakan reaksional terhadap pemberitaan yang tiba-tiba mangagetkan masyarakat. Contohnya reaksi terhadap majalah tempo oleh seorang pengusaha dijakarta sehingga sampai ke pengadilan. Namun dalam waktu lama tanpa disadari nya, pembaeritaan-pemberitaan itu akan menciptakan “jalan keluar” yang tak dikehendaki oleh dirinya sendiri, apabila ia mengalami masalah yang sama dengan apa yang dilihatnya di televisi, jadi efek media massa ini telah menciptakan “peta analog” sehingga apabila orang itu terkena musibah maka akan dengan gampang saja ia menggunakan racun nyamuk untuk mengakhiri hidupnya.


BAB DUABELAS: MASALAH-MASALAH SOSIAL DAN MEDIA MASSA

          A. Mistisme dan tahayul
            Mistik dan tahayul seperti yang disajikan di media massa di pahami oleh masyarakat sebagai mistik dan tahayul dalam konsep masyarakat  yaitu sarat dengan suasana misteri, kengerian, mencekam, horor, dll. Kebiasaan menonton tayangan mistik ini selain merupakan sebuah petualangan batin seseorang juga sebuah budaya masyarakat yang dilakukan di hampir semua masyarakat.
1. Macam-macam tayangan mistik dan tahayul
  • Mistik-semi sains, yaitu flim mistik yang berhubungan dengan fiksi ilmiah.contoh nya manusia harimau, pertunjukkan dedy corbuzzer,dll.
  • Mistik-fiksi, yaitu flim mistik hiburan yang tidak masuk akal, bersifat fiksi. Contohnya flim kartun Scooby doo.
  • Mistik-horor, yaitu flim mistik yang lebih banyak mengeksploitasi dunia lain, seperti hubungan dengan jin, dll.
2. Bahaya tayangan mistik dan tahayul
            Bahaya terbesara dari tayangan misitk dan tahayul adalah pada kerusakan sikap dan perilaku.
            B. Pelecehan seksual dan pornomedia
1. Berawal dari wacana seks
            Yang menjadi objek porno selalu tubuh wanita. Ada dua kutub yang mejadi konflik dalam menilai tubuh perempuan. pertama, kelompok yang memuja tubuh sebagai objek seks serta merupakan sumber kebahagiaan. Kedua, kelompok yang menuduh seks sebagai objek maupun subjek dari sumber malapetaka bagi kaum perempuan itu sendiri.
2. Pergeseran konsep pornografi
            Dalam wacana porno atau penggambaran tindakan pencabulan (pornografi) kontemporer, ada beberapa varian pemahaman porno yang dapat di konseptualisasikan, seperti:
  • Pornografi: gambar-gambar perilaku pencabulan yang lebih banyak menonjolkan tubuh dan alat kelamin manusia.
  • Pornoteks: karya porno yang ditulis naskah cerita atau berita dalam berbagai versi hubungan seksual, dalam berbagai bentuk narasi, termasuk pula cerita porno dalam buku-buku komik.
  • Pornosuara: kata-kata dan kalimat yang di ucapkan secara langsung maupun tidak langsung melakukan rayuan seksual, atau tentang tuturan objek seksual atau aktivitas seksual.
  • Pornoaksi: penggambaran aksi gerakan, liukan tbuh yang dapat merangsang, yang di pertontonkan langsung dari seseorang kepada orang lain.
  • Pornomedia: agenda media tentang porno dan penggunaan media massa dan telekomunikasi ini untuk menyebarkan porno tersebut inilah yang dimaksud dengan pornomedia.
3. Pengaruh pornomedia; kritik terhadap pornografi
            Substansi persoalan adalah pada pornomedia karena apapun tindakan porno yang dilakukan oleh masyarakat menjadi konteks dalam “kewilayahan domestic” namaun apabila tindakan porno itu ditayangkan di media massa, menjadi konsumsu public, maka pornomedia inilah yang sangat berbahaya, karena pornomedia mampu menciptakan kekuatan konstruksi social media massa itu.
4. Konstruksi social pornomedia
            Ketika media massa menggunakan pornomedia sebagai objek pemberitaan, maka informasi pemberitaan porno itu akan sangat terkontruksi sebagai pengetahuan di masyarakat. Proses kecepatan ini terjadi melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
            C. Kekerasan perempuan di media massa
1. Citra kekerasan perempuan
            Seks di masyarakat selalu digambarkan sebagai kekuasaan laki-laki terhadap perempuan, seks merupakan bagian yang dominan dalam hubungan laki-laki dan perempuan, serta menempatkan perempuan sebagai sobordinasi, perempuan selalu menjadi objek dalam media.
2. Kekuasaan laki-laki atas perempuan
            Pemberitaan media massa juga tidak seimbang antara pemaknaan ruang public laki-laki dan ruang public perempuan. Ketika media massa menyangkut laki-laki, maka media massa menyorotinya sebagai ‘pahlawan-pahlawan’ karena masyarkat membutuhkan mereka. Namun ketika media massa menyorot perempuan, terkesan maknanya hanya sebagai pelengkap saja.
            D. Kekerasan dan sadisme
            Kekerasan media massa bisa muncul secara fisik maupun verbal bagi media televisi. Bentuk kekerasan dan sadisme media massa dengan modus yang sama disemua media massa, yaitu lebih menonjolkan kengerian dan keseraman dimana tujuan pemberitaan itu sendiri.
            E. Pembunuhan karakter
            Mengadili seseorang melalui media massa merupakan bentuk kekerasan terkadap orang lain. Sasaran mengadili seseorang melalui media massa adalah pembunuhan karakter seseorang agar supaya reputasi orang tersebut menjadi hancur.
           
BAB TIGA BELAS: MASA DEPAN SOSIOLOGI KOMUNIKASI

            A. Agenda penting
1. Time and space dan stasiun media bergerak (telapak tangan)
            Perkembangan media penyiaran sedang bergeser dari stasiun tetap ke stasiun bergerak dalam ‘telapak tangan kita’. Teknologi lama tentang stasiun radio dan televisi mengacu pada sebuah bangun, ruang, dan tempat yang dibatasi oleh berbagai instalasi canggih dan rumit. Namun saat ini teknologi seluler yang sedang kita gunakan sedang mengarah kesebuah stasiun bergerak dalam genggaman kita, setiap kejadian dapat disiarkan dalam waktu itu juga.
2. Cyber dan ruang waktu
            Suatu saat (tak lama lagi) ketika ruang-ruang cyber dapat diperlebar lagi, maka sebenarnya tidak sekedar citra manusia, namun fisik manusia dapat dilepas dalam dunia cyber, inilah yang dimaksud dengan dunia kehidupan lain manusia masa depan.
3. Citra dan konstruksi social media massa
            Citra berhubungan secara timbal balik dengan perkembangan media massa, sehingga hampir semua kehidupan, seperti politik dan birokrasi, pendidikan dan lain-lainnya akan dapat disumbangkan oleh studi-studi tentang citra dan realitas media massa.
            B. Tenaga pengajar dan peneliti
            Tenaga pengajar dan peneliti di bidang komunikasi saat ini masih sangat terbatas yang ada di berbagai perguruan tinggi, kalau ada justru keberadaan mereka sama saja dengan tidak ada karena konsentrasi mereka tidak penuh kebidang ini, mereka banyak ke politik, dll. Akibatnya banyak pekerjaan penelitian menjadi terbengkalai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar